PERKEMBANGAN ANAK
Anak akan mengalami suatu periode
yang dinamakan sebagai masa keemasan anak saat usia dini dimana saat itu anak
akan sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan pengaruh dari
luar. Laju perkembangan dan pertumbuhan anak mempengaruhi masa keemasan dari
masing-masing anak itu sendiri. Saat masa keemasan, anak akan mengalami tingkat
perkembangan yang sangat drastis di mulai dari pekembangan berpikiri,
perkembangan emosi, perkembangan motorik, perkembangan fisik dan perkembangan
sosial. Lonjakan perkembangan ini terjadi saat anak berusia 0-8 tahun, dan
lonjakan perkembangan ini tidak akan terjadi lagi di periode selanjutnya. Saat
perkembangan anak khususnya saat perkembangan dini, orang tua harus betul
menjadikannya sebagai perhatian khusus, karena hal ini tentunya akan sangat
berpengaruh terhadap kehidupan anak di masa yang akan datang. Guna mendukung
hal tersebut berikut adalah beberapa hal yang harus di perhatikan orang tua
mengenai perkembangan anaknya.
1.
Perkembangan Kognitif
Perkembangan
kognitif anak terbagi ke dalam beberapa tahap:
- Tahap Sensorimotor, pada tahap ini kemampuan anak hanya pada gerakan refleks, mulai mengembangkan kebiasaan-kebiasaan awal, mereproduksi berbagai kejadian yang menurutnya menarik, mulai menggunakan berbagai hal atau peralatan guna mencapai tujuannya, melakukan berbagai eksperimen dan anak sudah mulai menemukan berbagai cara baru. Tahap sensorimotor terjadi saat usia 0-2 tahun.
- Tahapan Pra-operasional, pada tahap ini anak mulai menerima berbagai rangsangan yang masih terbatas, Kemampuan bahasa anak mulai berkembang, meskipun pola pikirnya masih bersifat statsi dan masih belum mampu untuk berpikir secara abstrak, persepsi mengenai waktu dan mengenai tempat masih tetap terbatas. Tahap pra-operasional berkembang saat usia anak 2-7 tahun.
- Tahap konkret operasional, pada tahap ini anak sudah bisa menjalankan operasional dan berpikirnya mulai berpikir secara rasional. Dalam tahap ini tugas-tugas seperti menyusun, melipat, melakukan pemisahan, penggabungan, menderetkan dan membagi sudah dapat dilakukan oleh anak. Tahap konkret operasional berlangsung pada usia 7-11 tahun.
- Tahap Formal Operasional, dalam tahap ini anak sudah mulai beranjak sebagai seorang remaja. Dalam tahap ini, anak sudah mulai berpikir secara hipotetik, yaitu penggunaan hipotesis yang relevan sudah dilakukan anak guna memecahkan berbagai masalah. Sudah mampu menampung atau berpikir terhadap hal-hal yang menggunakan prinsip-prinsip abstrak, sehingga anak sudah bida menerima pelajaran-pelajaran yang bersifat abstrak seperti matematika, agama dan lain-lain.
2.
Perkembangan Bahasa
Perkembangan
bahasa anak usia dini terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu:
- Periode prelingual, usia anak 0-1 thn, ciri utama adalah anak mengoceh untuk dapat berkomunikasi dengan orang tua, anak masih bersifat pasif saat menerima stimulus dari luar tapi anak akan menerima respon yang berbeda. Contoh: bayi akan senyum kepada orang yang dikenalnya dan menangis kepada orang yang tidak dikenal dan ditakutinya.
- Periode Lingual, usia antara 1-2,5 tahun, dalam taha ini anak sudah mampu membuat sebuah kalimat, satu atau dua kata dalam percakapannya dengan orang lain.
- Periode Diferensiasi, usia anak 2,5 - 5 thn, anak sudah memiliki kemampuan bahasa sesuai dengan peraturan tata bahasa yang baik dan benar. Permbendaharaan katanya sudang berkembang secara baik dilihat dari segi kuantitas dan kualitas.
3.
Perkembangan Sosio-emosional
Perkembangan
sosio emosisonal anak terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu:
- Tahap percaya versus curiga (trust vs mistrust), usia anak 0-2 tahun, dalam tahap ini anak akan tumbuh rasa percaya dirinya jika mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, namun akan tumbuh rasa curiga jika anak mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan.
- Tahap Mandiri versus Ragu ( Autonomy vs Shame), usia anak 2-3 tahun, perasaan mandiri mulai muncul tatkala anak sudah mulai menguasai seluruh anggota tobuhnya, sifat ragu dan malu akan muncul pada tahap ini ketika lingkungan tidak memberinya sebuah kepercayaan.
- Tahap berinisiatif versus bersalah (initiative versus guilt), usia anak 4-5 tahun. Pada masa ini anak sudah mulai lepas dari orang tuanya, anak sudah mampu bergerak bebas dan berhubungan dengan lingkungan. Kondisi ini dapat menimbulkan inisiatif pada diri anak, namun jika anak masih belum bisa terlepas dari ikatan orang tuanya dan belum bisa berinteraksi dengan lingkungan, rasa bersalah akan muncul pada diri anak.
PERKEMBANGAN REMAJA
- Pengertian Remaja
Fase
remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang di
awali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu berproduksi.
Kata remaja diterjemahkan dalam bahasa inggris adolescende atau adoleceré
(bahasa latin) yang berarti tumbuh atau tumbuh untuk masak, menjadi dewasa.
Dalam pemakaiannya istilah remaja dengan adolecen disamakan. Adolecen
maupun remaja menggambarkan seluruh perkembangan remaja baik perkembangan
fisik, intelektual, emosi dan social.
Istilah
lain untuk menunjukkan pengertian remaja yaitu pubertas. Pubertas berasal dari
kata pubes (dalam bahasa latin) yang berarti rambut kelamin, yaitu yang
merupakan tanda kelamin sekunder yang menekankan pada perkembangan seksual.
Dengan kata lain pemakaian kata pubertas sama dengan remaja tetapi lebih
menunjukkan remaja dalam perkembangan seksualnya atau pubertas hanya dipakai
dalam hubungannya dengan perkembangan bioseksualnya.
Masa
remaja di tinjau dari rentang kehidupan manusia merupakan masa peralihan dari
masa kanak-kanak ke masa dewasa. Jika melihat dari rentang usia remaja, Menurut
Hurlock (1964) menyatakan rentangan usia remaja itu antara 13-21 tahun, yang di
bagi pula dalam usia masa remaja awal 13/14 tahun sampai 17 tahun dan remaja
akhir 17 sampai 21 tahun.
WHO
menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. WHO menyatakan
walaupun definisi di atas terutama di dasarkan pada usia kesuburan (fertilitas)
wanita, batasan tersebut berlaku juga untuk remaja pria dan WHO membagi kurung
usia dalam dua bagian, yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20
tahun.
Selain
itu, ada juga membagi usia remaja menjadi tiga fase perkembangan, seperti
dikemukakan oleh Monks, dkk (2002) membagi fase-fase masa remaja ke dalam tiga
tahap, yaitu:
- Remaja awal (12-15 tahun)
- Remaja pertengahan (15-18 tahun)
- Masa remaja akhir (18-21 tahun)
Mengingat
saat mulainya masa remaja yang sangat dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan perorangan,
maka penentuan umur saja belum cukup untuk mengetahui apakah suatu tahap
perkembangan baru telah atau belum mulai. Penggolongan remaja yang semata-mata
berdasarkan usia saja, tidak membedakan remaja dengan keadaan sosial
psikologinya yang berlain-lainan.
Karakteristik Perkembangan Remaja
Ø Perkembangan fisik
Masa
remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa anak dan masa dewasa,
dimulai dengan pubertas, ditandai dengan perubahan yang pesat dalam berbagai
aspek perkembangan, baik fisik maupun psikis. Perubahan fisik yang terjadi pada
remaja terlihat pada saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat
badan serta kematangan sosial. Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar
pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan
menjadi semakin panjang dan tinggi).Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat
reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki)
dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarwono, 2006: 52).
Dalam
ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu
tahap perkembangan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai
kematangannya. Pada akhir dari perkembangannya fisik ini akan terjadi seorang
pria yang berotot dan berkumis yang menghasilkan beberapa ratus juta sel mani
(spermatozoa) setiap kali ia berejakulasi (memancarkan air mani), atau seorang
wanita yang berpayudara dan berpinggul besar yang setiap bulannya mengeluarkan
sel telur dari indung telurnya yang disebut menstruasi atau haid.
Perubahan
fisik pada pada remaja pria meliputi
- Membesarnya ukuran penis dan buah pelir
- Tumbuhnya bulu kapuk disekitar kemaluan, ketiak, dan diwajah.
- Perubahan suara menjadi agak membesar
- Terjadnya ejakulasi pertama biasanya melalui maturbasi atau onani atau “web dream” (mimpi basah).
Sementara
perubahan fisik pada remaja wanita ditandai dengan
- Menstruasi pertama
- Mulai membesarnya payudara
- Tumbuhnya bulu kapuk di sekitar ketiak dan kelamin.
- Membesarnya/ atau melebarnya ukuran pinggul. Puncak pertumbuhan fisik masa pubertas adalah pada usia 11,5 tahun pada remaja wanita, dan usia 13,5 tahun bagi remaja pria.
- Perkembangan kognitif
Perkembangan
kognitif adalah perkembangan kemampuan (kapasitas) individu untuk memanipulasi
dan menyimak informasi. Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif remaja
berada pada tahap “formal operation stage” yaitu tahap ke empat atau terakhir
dari tahapan perkembangan kognitif. Tahapan berpikir formal ini terdiri atas 2
periode (Broughton dalam John W. Santrock, 2010:97), yaitu:
- Early formal operation thought, yaitu kemampuan remaja untuk berpikir dengan cara hipotetif yang menghasilkan pikiran-pikiran sukarela (bebas) tentang berbagai kemungkinan yang tidak terbatas. Dalam priode awal ini remaja mempersepsi dunia sangat bersifat subjektif dan idealistik.
- Late Formal Opreration Thought, yaitu remaja mulai menguji pikirannya yang berlawanan dengan pengalamanya dan mengembalikan keseimbangan intelektualnya. Melalui akomendasi (penyesuaian terhadap informasi atau hal baru), remaja mulai menyesuaikan terhadap bencana atau kondisi pancaroba yang telah dialaminya.
Remaja,
secara mental telah dapat berpikir secara logis tentang berbagai gagasan yang
abstrak. Dengan kata lain berpikir operasi formal lebih bersifat hipotesis dan
abstrak, serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan masalah daripada berpikir
konkret.
A. Perkembangan emosi
Masa
remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosional yang
tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembangnya
emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan baru yang dialami
sebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih
intim dengan lawan jenis.
Gesel
dkk. (Elizabeth B. Hurlock, 1980, terjemahan istiwidayanti dan Soedjarwo, 1991)
mengemukakan bahwa remaja empat belas tahun sering kali mudah marah, mudah
terangsang, dan emosinya cenderung “meledak”, tidak berusaha mengendalikan
perasaannya. Sebaliknya, remaja enam belas tahun mengatakan bahwa mereka “tidak
mempunyai keprihatinan”. Jadi, adanya badai dan tekanan dalam periode ini
berkurang menjelang akhirnya awal masa remaja.
Meskipun
pada usia remaja kemampuan kognitif telah berkembang dengan baik, yang mungkin
dapat mengatasi sters atau fluktuasi emosi secara efektif tetapi masih banyak
remaja yang belum mampu mengelolah emosinya sehingga mereka mengalami depresi
marah-marah, dan kurang mampu meregulasi emosi. Kondisi ini dapat memicu
masalah seperti kesulitan belajar menyalahgunakan obat dan perilaku menyimpang,
dalam suatu penelitian dikemukakan bahwa regulasi emosi sangat penting bagi
keberhasilan akademik. Remaja yang sering mengalami emosi yang negatif
cenderung memiliki prestasi belajar yang rendah.
B. Perkembangan Sosial
Pada
masa remaja berkembang “social cognition” yaitu kemampuan untuk memahami orang
lain. Remaja memahami orang lain sebagai individu yang unik, baik menyangkut
sifat-sifat peribadi, minat nilai-nilai maupun perasaan. Pemahamannya ini,
mendorong remaja untuk menjalin hubungan sosial yang lebih akrap dengan mereka
(terutama teman sebaya),baik melalui jalinan persahabatan maupun percintan
(pacaran). Dalam hubungan persahabatan, remaja memilih teman yang memiliki
kualitas psikologis yang relatif sama dengan dirinya, baik menyangkut interes,
sikap, nilai, dan kepribadian.
Pada
masa ini juga berkembang sikap ‘conformity” yaitu kecenderungan untuk menyerah
atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran (hobby) atau
keinginan orang lain (teman sebaya). Perkembangan sikap konformitas pada remaja
dapat memberikan dampak yang positif maupun yang negatif bagi dirinya.
Penyesesuaian
sosial ini dapat diartikan sebagai “kemampuan untuk mereaksi secara tepat
terhadap realitas sosial, situasi, dan relasi. Remaja dituntut untuk memiliki
kemampuan penyesuaian sosial ini, baik dalam lingkungan keluarga, sosia, dan
masyarakat.
C. Perkembangan Moral
Malalui
pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orang tua, guru, teman sebaya, atau
orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang jika dibandingkan
dengan usia anak. Mereka sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai moral atau
konsep-konsep moralitas seperti kejujuran, keadilan, kesopanan, dan
kedisiplinan.
Pada
masa ini muncul dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai
baik oleh orang lain. Remaja berprilaku bukan hanya untuk memenuhi kepuasaan
fisiknya, tetapi psikologis (rasa puas dengan adannya penerimaan dan peneliaian
positif dari orang lain tentang perbuatannya).
D. Perkembangan kepribadian
Sifat-sifat
kepribadian mencerminkan perkembangan fisik, seksual, emosional, sosial,
kognitif, dan nilai-nilai. Masa remaja merupakan saat berkembangnya identity
(jati diri). Perkembangan “identity” merupakan isu sentral pada masa remaja
yang memberikan dasar bagi masa dewasa. Dapat juga dikatakan sebagai aspek
sentral bagi kepribadian yag sehat yang mereflesikan kesadaran diri. Kemampuan
mengidetifikasi orang lain dan mempelajari tujuan-tujuan agar dapat
berpartisipasi dalam kebudayaannya. Erikson menyakini bahwa perkembangan identity
pada masa remaja berkaitan erat dengan komitmennya terhadap okupasi masa depan,
peran-peran masa dewasa dan sistem keyakinan pribadi (Nancy J. Cobb, 1992: 75).
Sejak masa anak, sudah berkembang kesadaran akan diri dan masa remaja merupakan
saat berkembang usahany yang sadar untuk menjawab pertanyaan “who am I?” (Siapa
saya?).
Menurut
Erikson, identity diri individu berkembang pada usia remaja pada tahap
perkembangan kelima yaitu , identiti vs identiti confusion (kebingungan
identitas/peran). Erison mendifinisikan identitas sebagai consepsi konsep diri
penentuan tujuan, nilai dan keyakinan yang dipegang teguh oleh seseorang.
Krisis,
apabila remaja tidak mampu memilih diantara berbagai alternatif yang bermakna
remaja dikatakan telah menemuakan identitas dirinya (self-identity) ketika
berhasil memecahakan tiga masalah utama yaitu , pilihan pekerjaan, adopsi nilai
yang diyakinin dan dijalanin dan perkembangan identitas yang memuaskan.
Remaja
yang gagal menemukan identitas dirinya, atau mengalami kebingungan identitas,
cenderung menampilkan perilaku menyimpang atau aneh-aneh. Perilaku menyimpang
seperti menampikan diri dan cara bepakaian kata-kata kasar, senang mengonsumsi
makanan keras dan melalukan tindakan kriminal.
E. Perkembangan Kesadaran Beragama
- Masa remaja awal (usia 13-16 tahun),
Pada
masa ini terjadi perubahan jasmanih yang cepat, Pertumbuhan fisik yang terkait
dengan seksual mengakibatkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan dan
kekhawatiran pada diri remaja. Bahkan, kepercayaan agama yang telah tumbuh pada
umur sebelumnya, mungkin pula mengalami kegoncangan. Kepercayaan kepada Tuhan
kadang-kadang sangat kuat, akan tetapi kadang-kadang menjadi berkurang yang
terlihat pada cara ibadahnya yang kadang-kadang rajin dan kadang-kadang malas.
Penghayatan rohaninya cenderung skeptis (was-was) sehingga muncul keengganan
dan kemalasan untuk melakukan berbagai ibadah ritual (seperti ibadah salat)
yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.
2.
Masa remaja akhir (usia 17-21
tahun),
secara
psikologis, pada masa ini remaja sudah mulai stabil dan pemikirannya mulai
matang. Dalam kehidupan beragama remaja sudah melibatkan diri kedalam
kegiatan-kegiatan keagamaan. Remaja sudah dapat membedakan agama sebagai ajaran
dengan manusia sebagai penganutnya (ada yang taat dan ada yang tidak taat).
Kemampuan ini memungkinkan remaja untuk tidak terpengaruh oleh orang –orang
yang mengaku beragama, namun tidak melaksanakan ajaran agama. Remaja dapat
menilai bahwa ajaran agamanya yang salah, tetapi orangnya yang salah.
F. Ciri-ciri (karakteristik) Umum Masa Remaja
Pada
remaja sering terlihat adanya :
- Kegelisahan, keadaan yang tidak tenang menguasai ciri remaja. Mereka mempunyai banyak keinginan yang tidak dapat selalu dipenuhi.
- Pertentangan, pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri juga menimbulkan kebingungan baik bagi dari mereka maupun orang lain. Pertentangan dapat menyebabkan timbulnya keinginan yang hebat untuk melepaskan diri dari orang tua, tambah pula keinginan melepaskan diri secara ekonomis tidak memperoleh lagi bantuan dari keluarga dalam hal keuangan.
- Keinginan besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui.
- Keinginan menjelajah kealam sekitar yang lebih luas, misalnya melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan pramuka, kelompok atau himpunan pencinta alam (Himapala).
- Menghayal dan berfantansi, hayalan dan fantasi remaja banyak berkisar mengenai prestasi dan tangga karir.
- Aktivitas kelompok. Kebanyakan remaja-remaja menemukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dengan berkumpul-berkumpul melakuakan kegiatan bersama, mengadakan penjelajahan secara berkelompok.
PERKEMBANGAN MASA DEWASA
Istilah
adult berasal dari kata kerja Latin, seperti juga istilah adolescene -
adolescere yang berarti “tumbuh menjadi kedewasaan.” Oleh karena itu, orang
dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima
kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya. Pada sebagian
besar kebudayaan kuno, status ini tercapai apabila pertumbuhan pubertas sudah
selesai atau hampir selesai dan apabila organ kelamin anak telah berkembang dan
mampu berproduksi. Belum lama ini, dalam kebudayaan Amerika seorang anak belum
resmi dianggap dewasa kalau ia belum mencapai umur 21 tahun. Sekarang, umur 18
tahun merupakan umur dimana seseorang dianggap dewasa secara syah. Dengan
meningkatnya lamanya hidup atau panjangnya usia rata-rata orang maka masa
dewasa sekarang mencakup waktu yang paling lama dalam rentang hidup.
A.
CIRI-CIRI MASA DEWASA
Masa
dewasa ini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru
dan harapan-harapan sosial baru. Orang dewasa muda diharapkan memainkan peran
baru, seperti peran suami/istri, orang tua, dan pencari nafkah, dan
mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan-keinginan dan nilai-nilai baru sesuai
dengan tugas-tugas baru ini. Penyesuaian diri ini menjadikan periode ini suatu
periode khusus dan sulit dari rentang hidup seseorang. Dibawah ini di uraikan
secara ringkas ciri-ciri yang menonjol dalam tahun-tahun masa dewasa.
1.
Masa Dewasa sebagai “Masa
Pengaturan”
Masa
Dewasa sebagai “Masa Pengaturan” Telah dikatakan bahwa masa anak-anak dan masa
remaja merupakan periode “pertumbuhan” dan masa dewasa merupakan masa
“pengaturan” (settle down). Pada generasi-generasi terdahulu berada pandangan
bahwa jiika anak laki-laki dan wanita mencapai usia dewasa secara syah,
hari-hari kebebasan mereka telah berakhir dan saatnya telah tiba untuk menerima
tanggungjawab sebagai orang dewasa. Ini berarti bahwa pria muda mulai membentuk
bidang pekerjaan yang akan ditanganinya sebagai kariernya, sedangkan wanita
muda diharapkan mulai menerima tanggungjawab sebagai ibu dan pengurus rumah
tangga. Kapan orang muda masa kini memulai hidup rumah tangga bergantung pada
dua faktor. Pertama, cepat tidaknya mereka mampu menemukan pola hidup yang
memenuhi kebutuhan mereka kini dan pada masa depan. Faktor kedua yang
menentukan kemantapan pilihan seseorang bekerja tenggungjawab yang harus
dipikulnya sebelum ia mulai berkarya.
2. Masa Dewasa sebagai “Usia
Reproduktif” Orang tua (Parenthood) merupakan salah satu peran yang paling
penting dalamhidup orang dewasa. Orang yang kawin berperan sebagai orang tua
pada waktu saat ia berusia duapuluhan atau pada awal tigapuluhan; beberapa
sudah menjadi kakek/nenek sebelum masa dewasa ini berakhir. Orang yang belum
menikah hingga menyelesaikan pendidikan atau telah memulai kehidupankariernya,
tidak akan menjadi orangtua sebelum ia merasa bahwa ia mampu berkeluarga.
Perasaan ini biasanya terjadfi sesudah umurnya sekitar awal tigapuluhan.
Demikian pula, jika wanita ingin berkarier sesudah menikah, ia akan menunda
untuk mempunyai anak sampai usia tiga puluhan. Dengan demikian baginya hanyalah
dasa warsa terakhir dari masa dewasa ini merupakan “usia reproduktif”. Bagi
orang yang cepat mempunyai anak dan mempunyai keluarga besar pada awal masa
dewasa atau bahkan pada tahun-tahun terakhir masa remaja kemungkina seluruh
masa dewasa ini merupakan masa reproduksi.
3. Masa Dewasa sebagai “Masa
Bermasalah” Dalam tahun-tahun awal masa dewasa banyak masalah baru yang harus
dihadapi sesorang. Dengan menurunnya tingkat usia kedewasaan secara hukum
menjadi 18 tahun pada tahun 1970, anak-anak muda telah dihadapkan pada banyak
masalah dan mereka tidak siap untuk mengatasinya. Dari awal masa dewasa,
rata-rata orang Amerika zaman sekarang disibukkan dengan masalah-masalah yang
berhubungan dengan penyesuaian diri dalam berbagai aspek utama kehidupan orang
dewasa. Dalam dasawarsa 30 tahun sampai 40 tahun, penyesuaian diri lebih
dipusatkan pada hubungan dalam keluarga, karena umumnya pada usia ini orang
menyadari bahwa sulit untuk memilih pekerjaan lain atau mencoba-coba
mengembangkan suatu kemampuan baru. Oleh karena itu, pada umumnya pria
mengadakan penyesuaian diri terlebih dulu terhadap pekerjaan, dan baru kemudian
memusatkan perhatian pada upaya penyesuaian diri yang berkaitan dengan masalah-masalah
peran sebagai orang tua. Ada banyak alasan mengapa penyesuaian diri terhadap
masalah-masalah pada masa dewasa begitu sulit. Tiga di antaranya khususnya
bersifat umum sekali. Pertama, sedikit sekali orang muda yang mempunyai
persiapan untuk menghadapi jenis-jenis masalah yang perlu di atasi sebagai
orang dewasa. Kedua, mencoba menguasai dua atau lebih ketrampilan serempak
biasanya menyebabkan kedua-duanya kurang berhasil. Ketiga, dan mungkin yang
paling berat dari semuanya, orang-orang muda itu tidak memperoleh bantuan dalam
menghadapi dan memecahkan masalah-masalah mereka; tidak seperti sewaktu mereka
tidak dianggap belum dewasa.
4. Masa Dewasa sebagai “Masa
Ketegangan Emosional” Sekitar awal atau pertengahan umur tiga puluhan,
kebanyakan orang muda telah mampu memecahkan masalah-masalah mereka dengan
cukup baik sehingga menjadi stabil dan tenang secara emosional. Apabila
ketegangan emosi terus berlanjut sampai usia tigapuluhan, hal itu umunya nampak
dalam bentuk keresahan. Apa yang diresahkan orang-orang muda itu tergantung
dari masalah-masalah penyesuaiandiri yang harus dihadapi saat itu dan berhasil
tidaknya mereka dalam upaya penyelesaian itu.
5. Masa Dewasa sebagai “Masa
Keterasingan Sosial” Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjuunnya seseorang
kedalam pola kehidupan dewasa, yaitu kerier, perkawinan dan rumah tangga,
hubungan dengan teman-teman kelompok sebaya masa remaja menjadi renggang, dan
berbarengan dengan itu keterlibatab dalam kegiatan kelompok diluar rumah akan
terus berkurang. Sebagai akibatnya, untuk pertama kali sejak bayi semua orang
muda, bahkan yang populerpun, akan mengalami keterpencilan sosial atau apa yang
disebut Erikson sebagai “krisis keterasingan”. Keterasingan diintensifkan
denagn adanya semangat bersaing dan hasrat kuat untuk maju dalam karier –
dengan demikian keramahtamhan masa remaja di ganti dengan persaingan dalam
masyarakat dewasa – dan mereka juga harus mencurahkan sebagian besar tenaga
mereka untuk pekerjaan mereka, sehingga mereka hanya dapat menyisihkan waktu sedikit
untuk sosialisasi yang diperlukan untuk membina hubungan-hubungan yang akrab.
Akibatnya, mereka menjadi agosentis dan ini tentunya menambah kesepian mereka.
6. Masa Dewasa sebagai “Masa
Komitmen” Seorang pelajar yang sepenuhnya tergantung pada orangtua menjadi
orang dewasa mandiri, maka mereka menentukan pola hidup baru, memikul tanggung
jawab baru dan membuat komitmen-komitmen baru, meskipun pola-pola hidup,
tanggungjawab dan komitmen-komitmen baru ini mungkin akan berubah juga,
pola-pola ini menjadi landasan yang akan membentuk pola hidup, tanggungjawab
dan komitmen-komitmen di kemudian hari.
7. Masa Dewasa sebagai “Masa Perubahan Nilai”
Ada beberapa alasan yang menyebabbkan perubahan nilai pada masa dewasa dini,
Pertama jika orang muda dewasa ingin diterima oleh anggota-anggota kelompok
orang dewasa, mereka harus menerima nilai-nilai kelompok ini, seperti juga
sewaktu kanak-kanak dan remaja mereka harus menerima nilai-nilai kelompok teman
sebaya. Kedua, orang-orang muda itu segera menyadari bahwa kebanyakan kelompok
sosial berpedoman pada nilai-nilai konvesional dalam hal keyakinan-keyakinan
dan perilaku seperti juga halnya dalam hal penampilan. Ketiga, orang-orang yaPerkembangan Anak, Remaja, dan Dewasang
muda menjadi bapak – ibu tidak hanya cenderung mengubah nilai-nilai mereka lebih
cepat daripada mereka yang tida kawin atau tidak punya anak, tetapi mereka juga
bergeser kepada nilai-nilai yang lebih koservatif dan lebih tradisional.
8. Masa Dewasa sebagai “Masa
Penyesuaian Diri dengan Cara Hidup Baru” Dalam masa dewasa ini gaya-gaya hidup
baru paling menonjol di bidang perkawinan dan peran orangtua. Sebagai pengganti
masa perkenalan muda-mudi gaya tradisional, banyak orang muda zaman sekarang
menganggap hubungan seks sebelum perkawinan sebagai suatu bagianmasa perkenalan
yang dapat di terima. Khususnya mereka yang kuliah di akademi dan perguruan
tinggi sehingga hal itu juga telah dianggap sebagai bagian poola masa pacaran
masa kini. Menyesuaikan diri pada suatu gaya hidup yang baru memang selalu
sulit, terlebih-lebih bagi kaum muda zaman sekarang karena persiapan yang
mereka terima sewaktu masih anak-anak dan dimasa remaja biasanya tidak
berkaitan atau bahkan tidak cocok dengan gaya-gaya hidup baru ini, sebagai
contoh: orang-orang muda masa kini jarang sekali dipersiapkan agar mampu memikul
tanggungjawab sebagai orangtua tunggal atau tugas ganda sebagai orangtua dan
pencari nafkah di luar rumah.
9. Masa Dewasa sebagai “Masa
Kreatif” Bentuk kreatifitas yang akan terlihat sesudah ia dewasa akan
tergantung pada minat dan kemampuanindividual, kesempatan untuk mewujudkan
keinginan dan kegiatan-kegiatan-kegiatan yang memberikan kepuasan
sebesar-sebesarnya. Ada yang menyalurkan kreatifitasnya ini melalui hobi, ada
yang menyalurkannya melalui pekerjaan yang memungkinkan ekspresikreativitas.
Sewaktu remaja, perempuan lebih banyak diberikan kesempatan untuk berkreasi
dari pada anak laki-laki, karena kreativitas itu dari segi kepantasan seks di
anggap lebih pantas untuk wanita dari pada untuk pria. Oleh karena itu, sebagai
wanita muda mereka cenderung lebih kreatif daripada laki-laki dalam hal
apapunyang mereka lakukan, baik dalam pakian mereka, pengaturan rumah, atau
hobi mereka. Meskipun demikian, kesempatan ini banyak terhalang karena
tugas-tugas rumah tangga dan pengasuhan anak. Oleh sebab itu, waktu mereka
sudah setengah baya, prestasi kreativitas mereka kurang berkembang
dibandinhykan dengan prestasi pria yang pada awal masa dewasa kurangkreatif
dari wanita.
B. PERUBAHAN MINAT PADA MASA DEWASA
Kondisi-kondisi yang mempengaruhi perubahan
minat pada masa dewasa:
a. Perbuhan dalam kondisi kesehatan
Menjelang usia setengah baya, umumnya orang merasa bahwa kekuatan dan daya
tahannya tidak lagi seperti semula. Oleh sebab itu mereka bergeser pada
minat-minat yang tidak begitu memerlukan kekuatan dan daya tahan, terurama
dalam rekreasi mereka.
b. Perubahan dalam status ekonomi
Apabila status ekonomi membaik, orang cenderung memperluas minat mereka untuk
mencakup hal-hal yang semula belum mampu mereka laksanakan. Sebaliknya, kalau
status ekonomi mengalami kemunduran maka orang cenderung mempersempit minat
mereka.
c. Perubahan dalam pola kehidupan Orang muda harus meninjau
kembali minat-minat lama mereka dari segi waktu, tenaga, dana dan persahabatan
mereka untuk mengetahui apakah hal-hal ini sesuai dengan pola-pola kehidupan
mereka yang baru atau apakah hal-hal itu masih memebrikan kepuasan seperti
dulu.