Minggu, 12 Juni 2016

PERKEMBANGAN ANAK,REMAJA, DAN DEWASA




PERKEMBANGAN ANAK


Anak akan mengalami suatu periode yang dinamakan sebagai masa keemasan anak saat usia dini dimana saat itu anak akan sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan pengaruh dari luar. Laju perkembangan dan pertumbuhan anak mempengaruhi masa keemasan dari masing-masing anak itu sendiri. Saat masa keemasan, anak akan mengalami tingkat perkembangan yang sangat drastis di mulai dari pekembangan berpikiri, perkembangan emosi, perkembangan motorik, perkembangan fisik dan perkembangan sosial. Lonjakan perkembangan ini terjadi saat anak berusia 0-8 tahun, dan lonjakan perkembangan ini tidak akan terjadi lagi di periode selanjutnya. Saat perkembangan anak khususnya saat perkembangan dini, orang tua harus betul menjadikannya sebagai perhatian khusus, karena hal ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak di masa yang akan datang. Guna mendukung hal tersebut berikut adalah beberapa hal yang harus di perhatikan orang tua mengenai perkembangan anaknya.
1.      Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif anak terbagi ke dalam beberapa tahap:
  • Tahap Sensorimotor, pada tahap ini kemampuan anak hanya pada gerakan refleks, mulai mengembangkan kebiasaan-kebiasaan awal, mereproduksi berbagai kejadian yang menurutnya menarik, mulai menggunakan berbagai hal atau peralatan guna mencapai tujuannya, melakukan berbagai eksperimen dan anak sudah mulai menemukan berbagai cara baru. Tahap sensorimotor terjadi saat usia 0-2 tahun.
  • Tahapan Pra-operasional, pada tahap ini anak mulai menerima berbagai rangsangan yang masih terbatas, Kemampuan bahasa anak mulai berkembang, meskipun pola pikirnya masih bersifat statsi dan masih belum mampu untuk berpikir secara abstrak, persepsi mengenai waktu dan mengenai tempat masih tetap terbatas. Tahap pra-operasional berkembang saat usia anak 2-7 tahun.
  • Tahap konkret operasional, pada tahap ini anak sudah bisa menjalankan operasional dan berpikirnya mulai berpikir secara rasional. Dalam tahap ini tugas-tugas seperti menyusun, melipat, melakukan pemisahan, penggabungan, menderetkan dan membagi sudah dapat dilakukan oleh anak. Tahap konkret operasional berlangsung pada usia 7-11 tahun.
  • Tahap Formal Operasional, dalam tahap ini anak sudah mulai beranjak sebagai seorang remaja. Dalam tahap ini, anak sudah mulai berpikir secara hipotetik, yaitu penggunaan hipotesis yang relevan sudah dilakukan anak guna memecahkan berbagai masalah. Sudah mampu menampung atau berpikir terhadap hal-hal yang menggunakan prinsip-prinsip abstrak, sehingga anak sudah bida menerima pelajaran-pelajaran yang bersifat abstrak seperti matematika, agama dan lain-lain.
2.      Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa anak usia dini terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu:
  • Periode prelingual, usia anak 0-1 thn, ciri utama adalah anak mengoceh untuk dapat berkomunikasi dengan orang tua, anak masih bersifat pasif saat menerima stimulus dari luar tapi anak akan menerima respon yang berbeda. Contoh: bayi akan senyum kepada orang yang dikenalnya dan menangis kepada orang yang tidak dikenal dan ditakutinya.
  • Periode Lingual, usia antara 1-2,5 tahun, dalam taha ini anak sudah mampu membuat sebuah kalimat, satu atau dua kata dalam percakapannya dengan orang lain.
  • Periode Diferensiasi, usia anak 2,5 - 5 thn, anak sudah memiliki kemampuan bahasa sesuai dengan peraturan tata bahasa yang baik dan benar. Permbendaharaan katanya sudang berkembang secara baik dilihat dari segi kuantitas dan kualitas.
3.      Perkembangan Sosio-emosional
Perkembangan sosio emosisonal anak terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu:
  • Tahap percaya versus curiga (trust vs mistrust), usia anak 0-2 tahun, dalam tahap ini anak akan tumbuh rasa percaya dirinya jika mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, namun akan tumbuh rasa curiga jika anak mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan.
  • Tahap Mandiri versus Ragu ( Autonomy vs Shame), usia anak 2-3 tahun, perasaan mandiri mulai muncul tatkala anak sudah mulai menguasai seluruh anggota tobuhnya, sifat ragu dan malu akan muncul pada tahap ini ketika lingkungan tidak memberinya sebuah kepercayaan.
  • Tahap berinisiatif versus bersalah (initiative versus guilt), usia anak 4-5 tahun. Pada masa ini anak sudah mulai lepas dari orang tuanya, anak sudah mampu bergerak bebas dan berhubungan dengan lingkungan. Kondisi ini dapat menimbulkan inisiatif pada diri anak, namun jika anak masih belum bisa terlepas dari ikatan orang tuanya dan belum bisa berinteraksi dengan lingkungan, rasa bersalah akan muncul pada diri anak.


PERKEMBANGAN REMAJA
  1. Pengertian Remaja
Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang di awali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu berproduksi. Kata remaja diterjemahkan dalam bahasa inggris adolescende atau adoleceré (bahasa latin) yang berarti tumbuh atau tumbuh untuk masak, menjadi dewasa. Dalam pemakaiannya istilah remaja dengan adolecen disamakan. Adolecen maupun  remaja menggambarkan seluruh perkembangan remaja baik perkembangan fisik, intelektual, emosi dan social.
Istilah lain untuk menunjukkan pengertian remaja yaitu pubertas. Pubertas berasal dari kata pubes (dalam bahasa latin) yang berarti rambut kelamin, yaitu yang merupakan tanda kelamin sekunder yang menekankan pada perkembangan seksual. Dengan kata lain pemakaian kata pubertas sama dengan remaja tetapi lebih menunjukkan remaja dalam perkembangan seksualnya atau pubertas hanya dipakai dalam hubungannya dengan perkembangan bioseksualnya.
Masa remaja di tinjau dari rentang kehidupan manusia merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Jika melihat dari rentang usia remaja, Menurut Hurlock (1964) menyatakan rentangan usia remaja itu antara 13-21 tahun, yang di bagi pula dalam usia masa remaja awal 13/14 tahun sampai 17 tahun dan remaja akhir 17 sampai 21 tahun.
WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. WHO menyatakan walaupun definisi di atas terutama di dasarkan pada usia kesuburan (fertilitas) wanita, batasan tersebut berlaku juga untuk remaja pria dan WHO membagi kurung usia dalam dua bagian, yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun.
Selain itu, ada juga membagi usia remaja menjadi tiga fase perkembangan, seperti dikemukakan oleh Monks, dkk (2002) membagi fase-fase masa remaja ke dalam tiga tahap, yaitu:
  1. Remaja awal (12-15 tahun)
  2. Remaja pertengahan (15-18 tahun)
  3. Masa remaja akhir (18-21 tahun)
Mengingat saat mulainya masa remaja yang sangat dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan perorangan, maka penentuan umur saja belum cukup untuk mengetahui apakah suatu tahap perkembangan baru telah atau belum mulai. Penggolongan remaja yang semata-mata berdasarkan usia saja, tidak membedakan remaja dengan keadaan sosial psikologinya yang berlain-lainan.


Karakteristik Perkembangan Remaja
Ø  Perkembangan fisik
Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa anak dan masa dewasa, dimulai dengan pubertas, ditandai dengan perubahan yang pesat dalam berbagai aspek perkembangan, baik fisik maupun psikis. Perubahan fisik yang terjadi pada remaja terlihat pada saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial. Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi).Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarwono, 2006: 52).
Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Pada akhir dari perkembangannya fisik ini akan terjadi seorang pria yang berotot dan berkumis yang menghasilkan beberapa ratus juta sel mani (spermatozoa) setiap kali ia berejakulasi (memancarkan air mani), atau seorang wanita yang berpayudara dan berpinggul besar yang setiap bulannya mengeluarkan sel telur dari indung telurnya yang disebut menstruasi atau haid.

Perubahan fisik pada pada remaja pria meliputi
  1. Membesarnya ukuran penis dan buah pelir
  2. Tumbuhnya bulu kapuk disekitar kemaluan, ketiak, dan diwajah.
  3. Perubahan suara menjadi agak membesar
  4. Terjadnya ejakulasi pertama biasanya melalui maturbasi atau onani atau “web dream” (mimpi basah).
Sementara perubahan fisik pada remaja wanita ditandai dengan
  1. Menstruasi pertama
  2. Mulai membesarnya payudara
  3. Tumbuhnya bulu kapuk di sekitar ketiak dan kelamin.
  4. Membesarnya/ atau melebarnya ukuran pinggul. Puncak pertumbuhan fisik masa pubertas adalah pada usia 11,5 tahun pada remaja wanita, dan usia 13,5 tahun bagi remaja pria.
  5. Perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan (kapasitas) individu untuk memanipulasi dan menyimak informasi. Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif remaja berada pada tahap “formal operation stage” yaitu tahap ke empat atau terakhir dari tahapan perkembangan kognitif. Tahapan berpikir formal ini terdiri atas 2 periode (Broughton dalam John W. Santrock, 2010:97), yaitu:
  1. Early formal operation thought, yaitu kemampuan remaja untuk berpikir dengan cara hipotetif yang menghasilkan pikiran-pikiran sukarela (bebas) tentang berbagai kemungkinan yang tidak terbatas. Dalam priode awal ini remaja mempersepsi dunia sangat bersifat subjektif dan idealistik.
  2. Late Formal Opreration Thought, yaitu remaja mulai menguji pikirannya yang berlawanan dengan pengalamanya dan mengembalikan keseimbangan intelektualnya. Melalui akomendasi (penyesuaian terhadap informasi atau hal baru), remaja mulai menyesuaikan terhadap bencana atau kondisi pancaroba yang telah dialaminya.
Remaja, secara mental telah dapat berpikir secara logis tentang berbagai gagasan yang abstrak. Dengan kata lain berpikir operasi formal lebih bersifat hipotesis dan abstrak, serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan masalah daripada berpikir konkret.
A.   Perkembangan emosi
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosional yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan baru yang dialami sebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis.
Gesel dkk. (Elizabeth B. Hurlock, 1980, terjemahan istiwidayanti dan Soedjarwo, 1991) mengemukakan bahwa remaja empat belas tahun sering kali mudah marah, mudah terangsang, dan emosinya cenderung “meledak”, tidak berusaha mengendalikan perasaannya. Sebaliknya, remaja enam belas tahun mengatakan bahwa mereka “tidak mempunyai keprihatinan”. Jadi, adanya badai dan tekanan dalam periode ini berkurang menjelang akhirnya awal masa remaja.
Meskipun pada usia remaja kemampuan kognitif telah berkembang dengan baik, yang mungkin dapat mengatasi sters atau fluktuasi emosi secara efektif tetapi masih banyak remaja yang belum mampu mengelolah emosinya sehingga mereka mengalami depresi marah-marah, dan kurang mampu meregulasi emosi. Kondisi ini dapat memicu masalah seperti kesulitan belajar menyalahgunakan obat dan perilaku menyimpang, dalam suatu penelitian dikemukakan bahwa regulasi emosi sangat penting bagi keberhasilan akademik. Remaja yang sering mengalami emosi yang negatif cenderung memiliki prestasi belajar yang rendah.
B.  Perkembangan Sosial
Pada masa remaja berkembang “social cognition” yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Remaja memahami orang lain sebagai individu yang unik, baik menyangkut sifat-sifat peribadi, minat nilai-nilai maupun perasaan. Pemahamannya ini, mendorong remaja untuk menjalin hubungan sosial yang lebih akrap dengan mereka (terutama teman sebaya),baik melalui jalinan persahabatan maupun percintan (pacaran). Dalam hubungan persahabatan, remaja memilih teman yang memiliki kualitas psikologis yang relatif sama dengan dirinya, baik menyangkut interes, sikap, nilai, dan kepribadian.
Pada masa ini juga berkembang sikap ‘conformity” yaitu kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran (hobby) atau keinginan orang lain (teman sebaya). Perkembangan sikap konformitas pada remaja dapat memberikan dampak yang positif maupun yang negatif bagi dirinya.
Penyesesuaian sosial ini dapat diartikan sebagai “kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realitas sosial, situasi, dan relasi. Remaja dituntut untuk memiliki kemampuan penyesuaian sosial ini, baik dalam lingkungan keluarga, sosia, dan masyarakat.
C.  Perkembangan Moral
Malalui pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orang tua, guru, teman sebaya, atau orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang jika dibandingkan dengan usia anak. Mereka sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai moral atau konsep-konsep moralitas seperti kejujuran, keadilan, kesopanan, dan kedisiplinan.
Pada masa ini muncul dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik oleh orang lain. Remaja berprilaku bukan hanya untuk memenuhi kepuasaan fisiknya, tetapi psikologis (rasa puas dengan adannya penerimaan dan peneliaian positif dari orang lain tentang perbuatannya).
D.  Perkembangan kepribadian
Sifat-sifat kepribadian mencerminkan perkembangan fisik, seksual, emosional, sosial, kognitif, dan nilai-nilai. Masa remaja merupakan saat berkembangnya identity (jati diri). Perkembangan “identity” merupakan isu sentral pada masa remaja yang memberikan dasar bagi masa dewasa. Dapat juga dikatakan sebagai aspek sentral bagi kepribadian yag sehat yang mereflesikan kesadaran diri. Kemampuan mengidetifikasi orang lain dan mempelajari tujuan-tujuan agar dapat berpartisipasi dalam kebudayaannya. Erikson menyakini bahwa perkembangan identity pada masa remaja berkaitan erat dengan komitmennya terhadap okupasi masa depan, peran-peran masa dewasa dan sistem keyakinan pribadi (Nancy J. Cobb, 1992: 75). Sejak masa anak, sudah berkembang kesadaran akan diri dan masa remaja merupakan saat berkembang usahany yang sadar untuk menjawab pertanyaan “who am I?” (Siapa saya?).
Menurut Erikson, identity diri individu berkembang pada usia remaja pada tahap perkembangan kelima yaitu , identiti vs identiti confusion (kebingungan identitas/peran). Erison mendifinisikan identitas sebagai consepsi konsep diri penentuan tujuan, nilai dan keyakinan yang dipegang teguh oleh seseorang.
Krisis, apabila remaja tidak mampu memilih diantara berbagai alternatif yang bermakna remaja dikatakan telah menemuakan identitas dirinya (self-identity) ketika berhasil memecahakan tiga masalah utama yaitu , pilihan pekerjaan, adopsi nilai yang diyakinin dan dijalanin dan perkembangan identitas yang memuaskan.
Remaja yang gagal menemukan identitas dirinya, atau mengalami kebingungan identitas, cenderung menampilkan perilaku menyimpang atau aneh-aneh. Perilaku menyimpang seperti menampikan diri dan cara bepakaian kata-kata kasar, senang mengonsumsi makanan keras dan melalukan tindakan kriminal.
E.  Perkembangan Kesadaran Beragama
  1. Masa remaja awal (usia 13-16 tahun),
Pada masa ini terjadi perubahan jasmanih yang cepat, Pertumbuhan fisik yang terkait dengan seksual mengakibatkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan dan kekhawatiran pada diri remaja. Bahkan, kepercayaan agama yang telah tumbuh pada umur sebelumnya, mungkin pula mengalami kegoncangan. Kepercayaan kepada Tuhan kadang-kadang sangat kuat, akan tetapi kadang-kadang menjadi berkurang yang terlihat pada cara ibadahnya yang kadang-kadang rajin dan kadang-kadang malas. Penghayatan rohaninya cenderung skeptis (was-was) sehingga muncul keengganan dan kemalasan untuk melakukan berbagai ibadah ritual (seperti ibadah salat) yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.
2.      Masa remaja akhir (usia 17-21 tahun),
secara psikologis, pada masa ini remaja sudah mulai stabil dan pemikirannya mulai matang. Dalam kehidupan beragama remaja sudah melibatkan diri kedalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Remaja sudah dapat membedakan agama sebagai ajaran dengan manusia sebagai penganutnya (ada yang taat dan ada yang tidak taat). Kemampuan ini memungkinkan remaja untuk tidak terpengaruh oleh orang –orang yang mengaku beragama, namun tidak melaksanakan ajaran agama. Remaja dapat menilai bahwa ajaran agamanya yang salah, tetapi orangnya yang salah.

F. Ciri-ciri (karakteristik) Umum Masa Remaja
Pada remaja sering terlihat adanya :
  1. Kegelisahan, keadaan yang tidak tenang menguasai ciri remaja. Mereka mempunyai banyak keinginan yang tidak dapat selalu dipenuhi.
  2. Pertentangan, pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri juga menimbulkan kebingungan baik bagi dari mereka maupun orang lain. Pertentangan dapat menyebabkan timbulnya keinginan yang hebat untuk melepaskan diri dari orang tua, tambah pula keinginan melepaskan diri secara ekonomis tidak memperoleh lagi bantuan dari keluarga dalam hal keuangan.
  3. Keinginan besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui.
  4. Keinginan menjelajah kealam sekitar yang lebih luas, misalnya melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan pramuka, kelompok atau himpunan pencinta alam (Himapala).
  5. Menghayal dan berfantansi, hayalan dan fantasi remaja banyak berkisar mengenai prestasi dan tangga karir.
  6. Aktivitas kelompok. Kebanyakan remaja-remaja menemukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dengan berkumpul-berkumpul melakuakan kegiatan bersama, mengadakan penjelajahan secara berkelompok.


PERKEMBANGAN MASA DEWASA 

Istilah adult berasal dari kata kerja Latin, seperti juga istilah adolescene - adolescere yang berarti “tumbuh menjadi kedewasaan.” Oleh karena itu, orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya. Pada sebagian besar kebudayaan kuno, status ini tercapai apabila pertumbuhan pubertas sudah selesai atau hampir selesai dan apabila organ kelamin anak telah berkembang dan mampu berproduksi. Belum lama ini, dalam kebudayaan Amerika seorang anak belum resmi dianggap dewasa kalau ia belum mencapai umur 21 tahun. Sekarang, umur 18 tahun merupakan umur dimana seseorang dianggap dewasa secara syah. Dengan meningkatnya lamanya hidup atau panjangnya usia rata-rata orang maka masa dewasa sekarang mencakup waktu yang paling lama dalam rentang hidup.
A.    CIRI-CIRI MASA DEWASA
Masa dewasa ini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Orang dewasa muda diharapkan memainkan peran baru, seperti peran suami/istri, orang tua, dan pencari nafkah, dan mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan-keinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru ini. Penyesuaian diri ini menjadikan periode ini suatu periode khusus dan sulit dari rentang hidup seseorang. Dibawah ini di uraikan secara ringkas ciri-ciri yang menonjol dalam tahun-tahun masa dewasa.
1.      Masa Dewasa sebagai “Masa Pengaturan”
Masa Dewasa sebagai “Masa Pengaturan” Telah dikatakan bahwa masa anak-anak dan masa remaja merupakan periode “pertumbuhan” dan masa dewasa merupakan masa “pengaturan” (settle down). Pada generasi-generasi terdahulu berada pandangan bahwa jiika anak laki-laki dan wanita mencapai usia dewasa secara syah, hari-hari kebebasan mereka telah berakhir dan saatnya telah tiba untuk menerima tanggungjawab sebagai orang dewasa. Ini berarti bahwa pria muda mulai membentuk bidang pekerjaan yang akan ditanganinya sebagai kariernya, sedangkan wanita muda diharapkan mulai menerima tanggungjawab sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Kapan orang muda masa kini memulai hidup rumah tangga bergantung pada dua faktor. Pertama, cepat tidaknya mereka mampu menemukan pola hidup yang memenuhi kebutuhan mereka kini dan pada masa depan. Faktor kedua yang menentukan kemantapan pilihan seseorang bekerja tenggungjawab yang harus dipikulnya sebelum ia mulai berkarya.
2. Masa Dewasa sebagai “Usia Reproduktif” Orang tua (Parenthood) merupakan salah satu peran yang paling penting dalamhidup orang dewasa. Orang yang kawin berperan sebagai orang tua pada waktu saat ia berusia duapuluhan atau pada awal tigapuluhan; beberapa sudah menjadi kakek/nenek sebelum masa dewasa ini berakhir. Orang yang belum menikah hingga menyelesaikan pendidikan atau telah memulai kehidupankariernya, tidak akan menjadi orangtua sebelum ia merasa bahwa ia mampu berkeluarga. Perasaan ini biasanya terjadfi sesudah umurnya sekitar awal tigapuluhan. Demikian pula, jika wanita ingin berkarier sesudah menikah, ia akan menunda untuk mempunyai anak sampai usia tiga puluhan. Dengan demikian baginya hanyalah dasa warsa terakhir dari masa dewasa ini merupakan “usia reproduktif”. Bagi orang yang cepat mempunyai anak dan mempunyai keluarga besar pada awal masa dewasa atau bahkan pada tahun-tahun terakhir masa remaja kemungkina seluruh masa dewasa ini merupakan masa reproduksi.
3. Masa Dewasa sebagai “Masa Bermasalah” Dalam tahun-tahun awal masa dewasa banyak masalah baru yang harus dihadapi sesorang. Dengan menurunnya tingkat usia kedewasaan secara hukum menjadi 18 tahun pada tahun 1970, anak-anak muda telah dihadapkan pada banyak masalah dan mereka tidak siap untuk mengatasinya. Dari awal masa dewasa, rata-rata orang Amerika zaman sekarang disibukkan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan penyesuaian diri dalam berbagai aspek utama kehidupan orang dewasa. Dalam dasawarsa 30 tahun sampai 40 tahun, penyesuaian diri lebih dipusatkan pada hubungan dalam keluarga, karena umumnya pada usia ini orang menyadari bahwa sulit untuk memilih pekerjaan lain atau mencoba-coba mengembangkan suatu kemampuan baru. Oleh karena itu, pada umumnya pria mengadakan penyesuaian diri terlebih dulu terhadap pekerjaan, dan baru kemudian memusatkan perhatian pada upaya penyesuaian diri yang berkaitan dengan masalah-masalah peran sebagai orang tua. Ada banyak alasan mengapa penyesuaian diri terhadap masalah-masalah pada masa dewasa begitu sulit. Tiga di antaranya khususnya bersifat umum sekali. Pertama, sedikit sekali orang muda yang mempunyai persiapan untuk menghadapi jenis-jenis masalah yang perlu di atasi sebagai orang dewasa. Kedua, mencoba menguasai dua atau lebih ketrampilan serempak biasanya menyebabkan kedua-duanya kurang berhasil. Ketiga, dan mungkin yang paling berat dari semuanya, orang-orang muda itu tidak memperoleh bantuan dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah mereka; tidak seperti sewaktu mereka tidak dianggap belum dewasa.
4. Masa Dewasa sebagai “Masa Ketegangan Emosional” Sekitar awal atau pertengahan umur tiga puluhan, kebanyakan orang muda telah mampu memecahkan masalah-masalah mereka dengan cukup baik sehingga menjadi stabil dan tenang secara emosional. Apabila ketegangan emosi terus berlanjut sampai usia tigapuluhan, hal itu umunya nampak dalam bentuk keresahan. Apa yang diresahkan orang-orang muda itu tergantung dari masalah-masalah penyesuaiandiri yang harus dihadapi saat itu dan berhasil tidaknya mereka dalam upaya penyelesaian itu.
5. Masa Dewasa sebagai “Masa Keterasingan Sosial” Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjuunnya seseorang kedalam pola kehidupan dewasa, yaitu kerier, perkawinan dan rumah tangga, hubungan dengan teman-teman kelompok sebaya masa remaja menjadi renggang, dan berbarengan dengan itu keterlibatab dalam kegiatan kelompok diluar rumah akan terus berkurang. Sebagai akibatnya, untuk pertama kali sejak bayi semua orang muda, bahkan yang populerpun, akan mengalami keterpencilan sosial atau apa yang disebut Erikson sebagai “krisis keterasingan”. Keterasingan diintensifkan denagn adanya semangat bersaing dan hasrat kuat untuk maju dalam karier – dengan demikian keramahtamhan masa remaja di ganti dengan persaingan dalam masyarakat dewasa – dan mereka juga harus mencurahkan sebagian besar tenaga mereka untuk pekerjaan mereka, sehingga mereka hanya dapat menyisihkan waktu sedikit untuk sosialisasi yang diperlukan untuk membina hubungan-hubungan yang akrab. Akibatnya, mereka menjadi agosentis dan ini tentunya menambah kesepian mereka.
6. Masa Dewasa sebagai “Masa Komitmen” Seorang pelajar yang sepenuhnya tergantung pada orangtua menjadi orang dewasa mandiri, maka mereka menentukan pola hidup baru, memikul tanggung jawab baru dan membuat komitmen-komitmen baru, meskipun pola-pola hidup, tanggungjawab dan komitmen-komitmen baru ini mungkin akan berubah juga, pola-pola ini menjadi landasan yang akan membentuk pola hidup, tanggungjawab dan komitmen-komitmen di kemudian hari.
 7. Masa Dewasa sebagai “Masa Perubahan Nilai” Ada beberapa alasan yang menyebabbkan perubahan nilai pada masa dewasa dini, Pertama jika orang muda dewasa ingin diterima oleh anggota-anggota kelompok orang dewasa, mereka harus menerima nilai-nilai kelompok ini, seperti juga sewaktu kanak-kanak dan remaja mereka harus menerima nilai-nilai kelompok teman sebaya. Kedua, orang-orang muda itu segera menyadari bahwa kebanyakan kelompok sosial berpedoman pada nilai-nilai konvesional dalam hal keyakinan-keyakinan dan perilaku seperti juga halnya dalam hal penampilan. Ketiga, orang-orang yaPerkembangan Anak, Remaja, dan Dewasang muda menjadi bapak – ibu tidak hanya cenderung mengubah nilai-nilai mereka lebih cepat daripada mereka yang tida kawin atau tidak punya anak, tetapi mereka juga bergeser kepada nilai-nilai yang lebih koservatif dan lebih tradisional.
8. Masa Dewasa sebagai “Masa Penyesuaian Diri dengan Cara Hidup Baru” Dalam masa dewasa ini gaya-gaya hidup baru paling menonjol di bidang perkawinan dan peran orangtua. Sebagai pengganti masa perkenalan muda-mudi gaya tradisional, banyak orang muda zaman sekarang menganggap hubungan seks sebelum perkawinan sebagai suatu bagianmasa perkenalan yang dapat di terima. Khususnya mereka yang kuliah di akademi dan perguruan tinggi sehingga hal itu juga telah dianggap sebagai bagian poola masa pacaran masa kini. Menyesuaikan diri pada suatu gaya hidup yang baru memang selalu sulit, terlebih-lebih bagi kaum muda zaman sekarang karena persiapan yang mereka terima sewaktu masih anak-anak dan dimasa remaja biasanya tidak berkaitan atau bahkan tidak cocok dengan gaya-gaya hidup baru ini, sebagai contoh: orang-orang muda masa kini jarang sekali dipersiapkan agar mampu memikul tanggungjawab sebagai orangtua tunggal atau tugas ganda sebagai orangtua dan pencari nafkah di luar rumah.
9. Masa Dewasa sebagai “Masa Kreatif” Bentuk kreatifitas yang akan terlihat sesudah ia dewasa akan tergantung pada minat dan kemampuanindividual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan-kegiatan-kegiatan yang memberikan kepuasan sebesar-sebesarnya. Ada yang menyalurkan kreatifitasnya ini melalui hobi, ada yang menyalurkannya melalui pekerjaan yang memungkinkan ekspresikreativitas. Sewaktu remaja, perempuan lebih banyak diberikan kesempatan untuk berkreasi dari pada anak laki-laki, karena kreativitas itu dari segi kepantasan seks di anggap lebih pantas untuk wanita dari pada untuk pria. Oleh karena itu, sebagai wanita muda mereka cenderung lebih kreatif daripada laki-laki dalam hal apapunyang mereka lakukan, baik dalam pakian mereka, pengaturan rumah, atau hobi mereka. Meskipun demikian, kesempatan ini banyak terhalang karena tugas-tugas rumah tangga dan pengasuhan anak. Oleh sebab itu, waktu mereka sudah setengah baya, prestasi kreativitas mereka kurang berkembang dibandinhykan dengan prestasi pria yang pada awal masa dewasa kurangkreatif dari wanita.
B. PERUBAHAN MINAT PADA MASA DEWASA

 Kondisi-kondisi yang mempengaruhi perubahan minat pada masa dewasa:

a. Perbuhan dalam kondisi kesehatan Menjelang usia setengah baya, umumnya orang merasa bahwa kekuatan dan daya tahannya tidak lagi seperti semula. Oleh sebab itu mereka bergeser pada minat-minat yang tidak begitu memerlukan kekuatan dan daya tahan, terurama dalam rekreasi mereka.
b. Perubahan dalam status ekonomi Apabila status ekonomi membaik, orang cenderung memperluas minat mereka untuk mencakup hal-hal yang semula belum mampu mereka laksanakan. Sebaliknya, kalau status ekonomi mengalami kemunduran maka orang cenderung mempersempit minat mereka.
c. Perubahan dalam pola kehidupan Orang muda harus meninjau kembali minat-minat lama mereka dari segi waktu, tenaga, dana dan persahabatan mereka untuk mengetahui apakah hal-hal ini sesuai dengan pola-pola kehidupan mereka yang baru atau apakah hal-hal itu masih memebrikan kepuasan seperti dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar